Hokkaido Trip: Hari Pertama

Gila baru inget kalo punya blog. LOL. Kalau dipikir-pikir, kapan ya terakhir kali semangat nulis, kayaknya udah luama buanget. Iya, emang.

Anyway.

Saya baru saja kembali ke Kansai dari Hokkaido. Perjalanan lima hari empat malam yang super menyenangkan bersama teman-teman yang saling menguatkan. Halah. Kalau ditanya “Gimana Hokkaido?” jawaban saya mah cuma satu: DINGIN BRO.

Hokkaido adalah prefektur terluas yang berada di bagian paling utara Jepang. Kalau mau main ke Rusia, tinggal nyeberang, udah nyampe dah di Rusia. Karena lokasinya inilah, iklim di Hokkaido cenderung paling sejuk dibanding daerah-daerah lain di Jepang. Di musim dingin suhunya mencapai sekitar -20 derajat (celsius) dan suhu di musim panas rata-rata “hanya” 20 derajat.

Biasanya orang Jepang pergi berlibur ke Hokkaido di musim panas karena mencari tempat berlibur yang sejuk. Sementara di musim dingin, mereka berwisata ke Okinawa karena suhunya cenderung hangat meskipun sedang musim dingin.

Ketika ditanya ‘self study trip pergi ke mana’ dan saya jawab ‘Hokkaido’, reaksi semua teman orang (Jepang) saya adalah ‘Eh! Ichiban samui desu yo! (Wah! Paling dingin tuh!)’. Maklum, puncak musim dingin di sini memang bulan Februari, jadi ya suhunya sedang dingin-dinginnya. Namun saya menguatkan hati dan terbelilah tiket pesawat PP Osaka-Sapporo.

Singkat cerita, pergilah kami, empat orang siswa asal negara tropis yang baru lima bulan belajar bahasa Jepang tapi udah kepedean pergi sana-sini yang berharap bisa melihat tumpukan salju di Hokkaido.

20170218092628.jpg
Halo, Hokkaido!

Dari Kansai International Airport kami terbang ke New Chitose Airport di Hokkaido dengan maskapai Jetstar yang punya jadwal penerbangan paling pagi dan yang paling murah. Sampai di Chitose kami segera menuju hotel untuk menitipkan koper, leyeh-leyeh sebentar, lalu bergegas menuju Danau Shikotsu untuk melihat Lake Shikotsu Ice Festival.

20170218124121
Bus yang mengantarkan kami ke Danau Shikotsu. 930 yen dari Statsiun Chitose.

Oh iya, perjalanan ke Hokkaido ini adalah dalam rangka self study trip yang disponsori oleh Okumura-san Japan Foundation Kansai sebagai bagian dari program pelatihan bahasa Jepang yang sedang kami (saya) jalani. Jadi bagi yang mencari informasi tentang ski resort di Hokkaido, mon map, nggak ada, karena kami nggak punya uang sempat untuk main ski. Kalau anda penyuka wisata sejarah, bolehlah baca tulisan ini sampai selesai.

Tujuan utama kami ke ice festival ini sebenarnya untuk menonton pertunjukan taiko (drum tradisional Jepang), tapi dewi fortuna sedang tidak bersama kami karena sedang siaran. Ketika kami bertanya tentang jadwal acara ternyata pada hari itu sedang tidak ada pertunjukan taiko. Yauwes akhirnya kami berkeliling, makan, foto-foto, jajan, kemudian malamnya nonton kembang api.

IMG-20170218-WA0028.jpg
(Foto: lupa pake kamera siapa, kayaknya punya Teh Tia)

Lake Shikotsu Ice Festival ini tidak semeriah Yuki Matsuri (Snow Festival) yang diadakan di Sapporo. Diselenggarakan di tepi Danau Shikotsu, pameran menampilkan menara-menara es yang dibentuk sedemikian rupa. Bentuknya pun abstrak, tidak seperti snow festival yang menampilkan karakter-karakter yang sedang hits.

img-20170223-wa0006
Semacam gedung dengan banyak jendela. (Foto: Nataly)
img-20170222-wa0041
Danau di tepi danau. (Foto: pake kamera Teh Tia)
20170218135851
Pohon pinus yang membeku.
img-20170223-wa0004
Nggak tau ini apa. Sebut saja igloo. (Foto: Nataly)

Atraksi utama dari ice festival di Danau Shikotsu ini adalah light up di malam hari. Menara-menara es tadi disorot dengan lampu warna-warni sehingga menjadi pemandangan yang picturesque (ceilah).

IMG-20170218-WA0016.jpg
(Foto: ini juga lupa pake kamera siapa)
img-20170223-wa0001
(Foto: pinjem punya Amnath)

Selain light up dan kembang api, di festival ini anak-anak juga bisa bermain skating atau seluncuran dari menara es. Kami pun sesungguhnya ingin ikutan main bareng anak-anak yang unyu-unyu itu, tapi ya apa daya, menurut panitia festival kami sudah cukup besar untuk punya anak sendiri. Eh.

20170218140646
The playground. Cerah, sih, tapi minus sepuluh derajat.
20170218125204
Jangan lupa makan.

Setelah nonton kembang api, kami pun kembali ke hostel dengan bus yang sama. Harusnya kami turun di halte yang sama ketika kami naik, tapi karena sotoy, kami turun di dua atau tiga halte sebelum halte yang seharusnya. Jadilah ekstra exercise di malam hari di tengah suhu minus. Yak. Smangat.

Hostel tempat kami menginap namanya Khaosan Chitose Family Hostel. Tarif semalamnya untuk kamar tipe dormitory (sekamar lima orang, bunk bed, toilet, shared shower room per lantai) kami membayar sekitar 3700 yen. Hostel ini tidak menyediakan sarapan, tapi ada dapur dan ruang semacam kafe yang bisa dipakai setiap saat.

IMG-20170222-WA0043.jpg
Bento disponsori oleh Lawson. (Foto: kamera Teh Tia)

Banyak turis yang menginap di hostel ini karena lokasinya yang dekat bandara dan ski resort. Ketika kami menginap, banyak dari mereka yang membawa perlengkapan ski mereka yang segede-gede gaban. Oh, staf-staf hotelnya juga ramah, lancar berbahasa Inggris, dan helpful.

20170218205736.jpg
Kami bahagia bersama kotatsu.

Kalau kamu mencari penginapan yang dekat bandara dengan harga terjangkau, menginaplah di sini. Naik kereta dari airport ke Stasiun Chitose lalu jalan kaki selama 15 menit atau bisa juga naik taksi. FYI, taksi di Hokkaido lebih murah dibanding Tokyo atau Osaka.

Selama di Hokkaido, selain ke Shikotsu, kami pergi ke Noboribetsu dan Sapporo (of course). Berhubung saya sudah lelah, cerita perjalanan ini akan kami lanjutkan lagi besok (kalo sempat).

Kali Ini, Rindu Itu Bernama Yogyakarta

Setelah hampir genap dua tahun meninggalkan Yogyakarta dan pindah ke kota metropolitan yang berisik ini, mungkin sekarang pertama kalinya saya mengucapkan kalimat ini.

Saya rindu Yogya.

Bukan rindu yang hanya sekadar “ah kangen rumah” dan semacamnya, tapi rindu yang beneran rindu. *lah emang rindu yang nggak beneran rindu itu gimana, Ris?*

malioboro
Salah satu sudut Malioboro. (Sumber: http://www.mlampah-mlampah.com)

Kok bisa dong ngakunya selama ini nggak pernah merasa rindu terus tiba-tiba rindu?

Izinkan hamba sedikit bercerita, dua hari sudah Mas Patjar dirawat di rumah sakit. Opnamenya supermendadak karena sehari sebelumnya ketemu juga doi masih sehat walafiat lahir batin sakinah mawadah warahmah. Anyway, mendaratlah doi di RSU U*I. RSU U*I dipilih karena relatif dekat dengan tempat tinggalnya dan ada teman dekatnya yang ko-as di sana.

Bahwasanya Mas Patjar ini tak pernah sekalipun sakit yang sampai separah harus opname di rumah sakit (well, dulu pas TK pernah sih karena gegar otak), oleh karena itu sebagai patjar yang normal ya saya khawatir dong. Maka sepulang dari kantor, saya pun bergegas menuju rumah sakit tempat doi dirawat.

Setelah hampir satu jam diantar Abang Grabbike menerjang jalanan Jakarta di jam pulang kantor yang tentunya Anda sudah tahu sendiri bagaimana keadaannya, sampailah saya di rumah sakit.

Seumur hidup, yang namanya rumah sakit, saya kenalnya ya RSPR alias Rumah Sakit Panti Rapih di Yogya. Belum pernah sampai dirawat sih, puji Tuhan, tapi sering menunggu keluarga yang sedang dirawat di sana.

Sayangnya di Jakarta saya belum bisa menemukan rumah sakit yang menurut saya senyaman Panti Rapih. Yang bersih, rapi, tenaga medisnya oke, dan relatif murah biayanya. Ya nggak berharap untuk sakit dan dirawat juga sih ya tapi kan kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Rumah sakit tempat Mas Patjar dirawat kali ini mungkin nilainya cuma setengah dari RSPR.

Nah, sebelum postingan ini malah jadi postingan reviu rumah sakit, mari kita kembali kepada premis awal tulisan ini. Rindu Yogya.

Peristiwa sakitnya Mas Patjar dan segala keribetan mengurusi segala sesuatunya termasuk capeknya bolak-balik kosan-RS ini ternyata cukup menyentil saya. Jakarta keras, semua orang juga tahu. Tapi Yogyakarta sungguh-sungguh Berhati Nyaman, mungkin tidak semua orang mengalaminya.

Punya orang tua dan trah keluarga besar yang Yogya tulen tidak membuat saya merasa serta merta menjadi orang Yogya meskipun KTP jelas-jelas KTP Yogya. Ini karena saya baru sungguh-sungguh meresapi Yogya ketika duduk di bangku kuliah.

Karenanya saya tidak akan menyama-nyamakan diri dengan teman-teman yang memang orang Yogya seasli-aslinya, seumur hidup sudah tinggal di Yogya. Saya mah apa atuh, cuman pendatang penambah kemacetan di jalanan Sagan.

Tujuh tahun saya tinggal di Yogya. Turut menyumbang polusi dengan asap karbon monoksida yang hampir tidak pernah absen mengepul dari Si Biru Cina, sepeda motor kesayangan saya. Bagaimana mau absen, kegiatan sehari-hari semasa kuliah sampai bekerja ya kalau nggak kuliah, kerja, ya main dan kota-kota.

Kota-kota itu istilah untuk kegiatan muter-muter kota dengan ataupun tanpa tujuan yang pasti.

Yogya ketika awal saya jadi mahasiswa belum macet dan riuh seperti sekarang. Perjalanan rumah-kampus bisa ditempuh dalam waktu sepuluh menit saja, suatu hal yang mustahil dilakukan di Jakarta kecuali jarak rumah-kampus hanya sejauh kosan Pejambon-kantor Kemlu.

Begitupun, saya yakin sebelum-sebelumnya Yogya bahkan jauh lebih tenang dan ayem.

Dulu saya kira rasa rindu pada Yogya hanya sebatas rasa kangen pada rumah dan Mas Patjar. Tapi ternyata rasa rindu jauh melebihi itu semua. Saya rindu Yogya dengan segala partikel-partikel kecilnya.

Saya rindu Yogya dengan segala kesederhanaannya. Sesederhana perasaan bahagia saat bisa makan kenyang hanya dengan lima ribu rupiah saja. Sesederhana rasa kagum saat memandangi pucuk Merapi yang berkabut sambil melamun dari loteng rumah seusai menjemur cucian basah. Sesederhana serunya nongkrong tengah malam di nol kilometer bersama teman dan bercerita tentang apa saja.

Saya rindu Yogya dengan segala ketidakmodernan dan keterbatasannya. Saya ingat waktu itu bioskop 21 di Yogya hanya ada satu dan bagaimana saya mengeluh karenanya secara saya besar di Surabaya. Jangankan saat premier filmnya, seminggu berikutnya sudah pasti antrean pembeli tiket bioskop mengular dengan tidak sopannya.

Sekarang Yogya sudah modern. Mall sudah banyak. Bioskop tinggal pilih saja. Kafe tempat ngopi-ngopi lucu pun bisa ditemukan di mana-mana.

Saya rindu Yogya dengan keberagamannya. Pergilah ke kampus UGM dan Anda akan menemukan orang-orang dari berbagai suku bangsa. Jawa, Cina, Papua, semua ada.

Saya rindu Yogya dengan segala kemudahannya. Semudah pergi ke mana-mana dengan naik motor atau nebeng teman saja. Sayang memang sampai sekarang Yogya belum punya sistem transportasi umum yang mumpuni. Transjogja seringnya masih mitos jadwalnya. Eh, tapi ke mana-mana bisa naik becak atau ojek kok!

Sekilas pesan sponsor, sekarang di Yogya sudah ada Go-Jek, saudara-saudara.

Mungkin sampai sini Anda merasa saya terlalu mengagung-agungkan Yogya. Menjelaskan reaksi saya yang cenderung defensif jika ada orang yang nyinyir soal Yogya. Ini sih fanatisme, semu, mungkin kata Anda.

Tapi Anda memang harus tinggal dulu di Yogya untuk mampu merasakan semua rasa yang saya rasakan. Setahun, mungkin, atau dua. Belum cukup memang untuk sampai membuat Yogya mendarah daging pada diri Anda, namun saya janji Anda akan setuju dengan saya tentang kenyamanannya.

Di Yogya waktu berjalan lebih lambat, begitu selalu saya katakan pada teman-teman yang bertanya dan sebagian besar mengakuinya.

Mungkin karena memang pada dasarnya saya orangnya males mager (terlalu) santai, pace hidup saya sangat in tune dengan pace kehidupan sehari-hari di Yogya. Keharusan untuk pindah ke Jakarta itu sejujurnya neraka.

Hidup itu lucu, ya. Dulu saya memutuskan ingin kuliah di Yogya karena merasa lelah dengan kehidupan saya yang dirasa-rasa membosankan dan stagnan. Yogya yang awalnya saya jadikan tempat pelarian ternyata malah menjadi salah satu fase paling penting dalam kehidupan dan pendewasaan.

Yogya sudah terlalu banyak mengubah saya. Menambah pengalaman-pengalaman dan memberi pelajaran berharga. Yogya mengenalkan saya dengan teman-teman baru, sahabat-sahabat dekat, dan keluarga.

Terakhir tapi tak kalah penting, Yogya bagi saya juga romantis, karena telah mempertemukan tangan-tangan yang mampu saling mengisi di antara jemari, sampai saat ini. Semoga sampai nanti.

Hadeh, tulisan ini tampaknya terlalu panjang. Maaf jikalau membosankan. Tapi beneran saya sedang rindu pada kota kecil yang jika liburan alamak ramainya ini.

With Fifin
And that pretty much sums up everything. (Sumber: good people in the www)

Ini rinduku, apa rindumu?

Cheers,

RSA

Mengapa Harus Lapor : Tips bagi WNI yang Berpergian ke Luar Negeri

“Kebijakan diplomasi akan pro kepada rakyat Indonesia. Salah satunya dengan menempatkan upaya perlindungan warga Indonesia di luar negeri sebagai prioritas.”

Retno L.P. Marsudi – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia

Tim evakuasi WNI korban gempa di Nepal, Mei 2015. (Foto: Pangarso Dadung)
Tim evakuasi WNI korban gempa di Nepal, Mei 2015. (Foto: Pangarso Dadung)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah postingan dari seorang penulis blog perjalanan papan atas Indonesia. Saya kategorikan sebagai papan atas karena beliau ini punya basis penggemar yang besar, ditambah lagi beliau sudah menelurkan beberapa judul buku yang menjadi best seller dunia penerbitan nasional.

Tulisan beliau kali ini cukup heboh di kalangan netizen. Saya perhatikan waktu itu kolom komentar lebih panjang (mungkin dua atau tiga kali lipat) dibanding tulisan sebenarnya. Saya pribadi, sih, tidak terlalu mempermasalahkan tulisan beliau. Tapi yang namanya anak muda, muncul juga dong rasa ingin tahu yang cukup besar, apalagi setelah tahu ternyata twitter beliau juga turut ramai karena postingan tersebut.

Jadi demi menunaikan tugas mulia sebagai anak muda kekinian, saya tengoklah akun twitter beliau.

Saya baca beberapa reply dan mention. Satu, dua, tiga, hmmm, oke, biasa-biasa aja tuh. Sampai mention yang kesekian membuat saya agak terkekeh.

Ada salah satu akun yang kurang lebih berkata kalau ke luar negeri itu harus sowan ke KBRI dengan komentar “Feodal banget ya.”

Lha kok feodal.

Jadi begini. Sekadar informasi. Bahwasanya memang tidak ada aturan yang secara eskplisit mengatakan kalau WNI yang berkunjung ke negara tertentu harus menyambangi KBRI, meskipun tentu hal ini sangat disarankan. Tapi yang namanya Lapor Diri ketika berada di luar negeri adalah wajib hukumnya bagi WNI. Catat: WAJIB.

Apa, sih, Lapor Diri itu?

Lapor Diri adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan WNI di sebuah negara. WNI melaporkan data dirinya, antara lain nama, periode dan maksud kunjungan, serta alamat dan nomor telepon selama berada di negara tersebut. KBRI akan mendata laporan yang masuk. Ketika si WNI pindah negara, otomatis dia harus melakukan Lapor Diri lagi, termasuk jika WNI tersebut sudah kembali ke tanah air.

Proses ini seyogyanya dilakukan oleh semua WNI yang berpergian ke luar negeri, baik yang menetap maupun sekadar berlibur.

Bagi WNI yang akan menetap di negara bersangkutan selama minimal 1 tahun, WNI wajib melaporkan dirinya ke KBRI terdekat sekurang-kurangnya 30 hari setelah kedatangan. Ketentuan ini disebutkan dalam UU no. 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan. Bagi WNI yang tinggal sementara memang tidak diatur secara khusus, namun disarankan agar melaporkan diri dalam waktu tidak lebih dari 5 hari setelah kedatangan.

Mengapa harus lapor?

Jika memiliki data WNI yang berkunjung ke negara akreditasi, KBRI akan dengan mudah melacak WNI bersangkutan. Setidaknya KBRI tahu siapa WNI yang berkunjung sekaligus cara menghubunginya. Jangan curiga dulu, KBRI tidak akan memanfaatkan maupun menyebarluaskan data WNI pada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini semata-mata untuk berjaga-jaga jika, misalnya, mendadak terjadi situasi darurat di negara tersebut, katakanlah bencana alam atau serangan teroris atau perang.

Saya pribadi, sih, berharap tidak ada hal-hal membahayakan apa pun yang mengancam keselamatan WNI di luar negeri. Namun jika ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi pada WNI, akan lebih mudah bagi KBRI untuk membantu WNI yang datanya sudah terdaftar dalam database KBRI.

Bayangkan jika KBRI tidak memiliki data WNI yang berkunjung ke negara akreditasi. Ketika terjadi bencana alam, gempa bumi di Nepal beberapa waktu yang lalu, misalnya, KBRI akan kesulitan memetakan jumlah dan identitas WNI yang berisiko terkena dampak bencana. Hal ini merupakan sebuah kerugian, baik di pihak KBRI maupun WNI.

Lapor Diri diperlukan agar tugas KBRI di luar negeri yang salah satunya adalah protecting alias perlindungan dapat dijalankan dengan lancar. Kerja sama WNI sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan ini.

Gini, deh, gampangnya. Bagaimana KBRI mau melindungi WNI di luar negeri kalau mereka nggak punya data WNI yang sedang berada di sana? Staf KBRI, kan, bukan cenayang yang bisa merasakan kedatangan WNI hanya dari aura atau embusan napas.

Proses evakuasi WNI di Tarim, Yaman. Karena menjadi diplomat bukan sekadar pergi sidang apalagi senang-senang. (Foto: Yusron Ambary, https://twitter.com/yusron_dc/media )
Proses evakuasi WNI di Tarim, Yaman, April 2015. Karena menjadi diplomat bukan sekadar pergi sidang apalagi senang-senang. (Foto: Yusron Ambary, https://twitter.com/yusron_dc/media )

Oleh karena itu, sekali lagi, saya mengetuk kesadaran dari bapak-bapak, ibu-ibu, saudara, dan saudari sekalian yang akan berpergian ke luar negeri untuk melakukan Lapor Diri segera setelah tiba di negara tujuan.

Bagaimana melakukan Lapor Diri?

Pada dasarnya Lapor Diri dapat dilakukan dengan mendatangi KBRI terdekat di negara bersangkutan. Prosesnya cepat, tidak memakan waktu lama, WNI hanya perlu membawa dokumen seperti paspor dan foto. Prosedur dan syarat Lapor Diri pada umumnya sudah terdapat di website masing-masing KBRI. Prosedur Lapor Diri bagi WNI yang berkunjung ke Inggris dan Irlandia, misalnya, dapat langsung dibaca pada laman ini.

Selain datang ke KBRI secara langsung, ada beberapa KBRI yang telah melayani proses Lapor Diri secara online, KBRI Tashkent (Uzbekistan), misalnya, yang dapat diakses pada tautan ini.

Jika KBRI di negara yang kamu kunjungi tidak menyertakan prosedur Lapor Diri ini pada website mereka (meskipun kecil kemungkinannya karena ini sudah menjadi semacam SOP), atau kemungkinan terburuknya KBRI setempat tidak memiliki website resmi, jangan sedih! Kamu tetap bisa melakukan Lapor Diri dengan cara menelepon nomor hotline KBRI bersangkutan. Daftar nomor telepon tersebut bisa kamu dapatkan di sini. Hal ini juga dapat dilakukan bagi WNI yang melakukan kunjungan super-singkat di negara tujuan.

Sebelum tiba di negara bersangkutan, ada baiknya juga untuk memberikan informasi pada KBRI setempat, in case ketika sudah tiba di negara tujuan kamu sama sekali tidak punya waktu untuk melakukan Lapor Diri. KBRI pasti akan memberikan apresiasi bagi WNI yang sadar diri melaporkan kedatangannya di negara tersebut.

By the way, semua proses ini GRATIS alias tidak dipungut biaya sama sekali.

Bagaimana? Gampang, kan?

Pelayanan Konsuler di Loket KJRI Osaka. (Foto: KJRI Osaka, http://www.kemlu.go.id/osaka/Pages/Embassies.aspx?IDP=18&l=id )
Pelayanan Konsuler di Loket KJRI Osaka. (http://www.kemlu.go.id/osaka/Pages/Embassies.aspx?IDP=18&l=id)

Proses Lapor Diri ini tidak akan melukai kamu maupun menyita banyak waktu liburanmu. Semua dapat dilakukan semudah mengangkat telepon seluler kamu dan menghubungi staf KBRI di negara destinasi kunjunganmu.

Berikut ini beberapa tautan website KBRI yang memuat informasi tentang Lapor Diri:

KJRI Vancouver (Kanada), KJRI Perth (Australia), KBRI Paris (Prancis), KBRI Tashkent (Uzbekistan), KBRI London (Inggris), KBRI Ottawa (Kanada), KBRI Washington DC (AS), KBRI Tokyo (Jepang), KBRI Beijing (RRT), KBRI Brussels (Belgia)Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemlu RI

Seandainya kamu sudah mencari informasi tentang KBRI di negara tujuan namun tidak menemukan informasi apa pun, mangga, silakan menghubungi Kementerian Luar Negeri melalui cara-cara berikut ini. Para staf di sana akan membantu kamu semaksimal mungkin dengan segenap hati.

Feodal, sih, enggak, tapi staf-staf di KBRI juga manusia yang kadang terserang home sick luar biasa sehingga jika ada WNI yang berkunjung ke KBRI pasti akan disambut dengan riang gembira (ya, asal menyambanginya bukan cuma ketika ada masalah aja, ya, hahaha).

Nah, kayaknya udah cukup panjang yah. Jarang-jarang loh saya nulis sesuatu yang sebegini seriusnya (iya tulisan kayak gini aja udah serius untuk ukuran saya).

Demikian sekilas info. Semoga dapat membantu teman-teman WNI semua yang berencana berpergian ke luar negeri. Tulisan ini tentu saja tidak sempurna, karena sempurna itu hanya milik Andra and the Backbone. Boleh dipercaya, boleh juga tidak, karena sesungguhnya hanya pada Tuhanlah manusia harus percaya.

Cheers,

RSA

Catatan: saya memakai sebutan KBRI karena masih banyak orang yang awam terhadap istilah Perwakilan RI. KBRI di sini maksudnya adalah Perwakilan RI di luar negeri yang terdekat di negara bersangkutan, bisa KBRI, KJRI, KRI, atau bahkan KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia). Di beberapa wilayah tertentu di negara-negara tertentu ada juga Konsul Kehormatan yang operasionalnya tidak di bawah pemerintah RI secara langsung.

If there is one thing that I’m afraid of when I become a parent in the future, that would be I have a child (or children) who doesn’t like to read. When bad things happen and my child don’t like to read, then I hope he/she would at least become a very good listener.

Ask, and It Will Be Given To You

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”
(Matius 7:7)

Ehem, postingan kali ini mungkin akan terasa sedikit (sumpah cuman sedikit tok) religius. Tapi, semoga enggak, ah. :P

Jadi ini berawal dari berminggu lalu. Waktu itu saya terlibat percakapan yang tadinya-sih-enggak-serius-tapi-akhirnya-malah-bikin-kepikiran dengan seorang mas-mas berinisial AP.

Awalnya dia bilang (baca: ngeluh) kalau lagi sepi orderan, belum ada orang yang beli desainnya, begini, begitu. Waktu itu saya tanggapi dengan santai. Saya cuma bilang, “Kamu kurang berdoa, sih.”

Ternyata kemudian dia mengiyakan. Katanya dia kalau berdoa sering ketiduran, jadi, ya, sudahlah.

Waktu itu saya juga bilang, “Kalau yang minta aja males minta, yang dimintai bingung juga, dong, mau ngasih apa.” Kami berdua sama-sama mengamini kata-kata saya waktu itu. Kemudian kami bermain dengan karet gelang seperti yang sering dilakukan ketika masih berseragam putih-merah dulu sambil menghabiskan seporsi terang bulan.

Kesadaran akan maksud kalimat yang saya ucapkan sendiri waktu itu baru datang beberapa waktu setelahnya. Kalau dipikir-pikir, bener juga, ya. Kalau kita enggak minta, gimana Sang Pemberi tau apa yang sebenarnya kita inginkan?

Yeah, okelah, Sang Pemberi itu memang mahatau segalanya. Ibaratnya, tanpa diminta pun Dia sudah pasti tau kebutuhan kita dan mencukupkannya. Tapi, yakin, sudah cukup segitu aja?

Beberapa waktu yang lalu, di kantor maupun di gereja, saya beberapa kali mendapatkan khotbah dengan tema yang serupa. Isi khotbahnya macam-macam, tapi intinya sama: meminta. Meminta pada siapa? Ya, meminta pada Dia yang mahamemberi, dong, masak minta sama tetangga sebelah.

Disebutkan bahwa kita tidak boleh ragu untuk meminta sesuatu pada-Nya. Minta apa saja. Pasti Dia yang mahamurah akan memberikannya untuk kita. Mintalah berkat sebanyak-banyaknya dari-Nya. Dia akan memberikan berkat sebanyak, bahkan lebih banyak dari yang kita minta. Bahkan ketika Dia tampaknya tidak mengabulkan permintaan kita, akan Dia kirimkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita minta.

Saya jadi (agak) tertohok. Sudah berapa banyak hal yang saya minta dan (tampaknya) tidak terkabul? Sepertinya banyak.

Setelah itu saya berpikir lagi, bertanya pada diri sendiri. Sudah tekunkah saya dalam meminta?

Kemudian saya sadar, saya belum cukup tekun meminta. Terlalu cepat menyerah. Meminta sekali, dua kali, lalu lupa.

Saya sendiri belum pernah lihat seberapa besar deposito berkat milik-Nya, sih, tapi saya percaya, Dia yang di atas sana sungguh punya stok berkat yang berlimpah untuk kita. Saking berlimpahnya bahkan dibagi-bagi untuk seluruh isi dunia ini pun berkat dari-Nya tidak akan ada habis-habisnya. Dia sangat kaya. Dan untuk mendapatkan secuil dari berkat-Nya itu, yang perlu kita lakukan hanya meminta.

Ya, meminta. Meminta dengan tekun dan kontinyu.

Setelah meminta, kita harus menunggu. Tapi bukan berarti dengan menunggu kita lantas berhenti meminta. Hanya saja di proses ini kita bisa lebih berserah pada kehendak-Nya. Nanti, kalau sudah tiba saatnya, berkat itu akan tiba, berlimpah-limpah, pada kita.

*skimming postingan ini mulai kalimat pertama sampai kalimat terbaru*

Wedeh, ini, sih, religius banget kalik, Ris! Yaudah, maap, deh. Sekali-sekali tok, kok, sumpah. :)))

Jadi, jangan ragu untuk meminta. Teruslah meminta dan tekunilah itu. Lalu percayalah, percayalah bahwa kamu akan mendapatkan yang terbaik. Tidak ada orang tua yang ketika anaknya minta roti maka akan diberinya ular, kan?

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Hidup dari Bonus

Dari dulu saya selalu iri pada orang yang bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan ‘passion’-nya. Kalau dibayangkan, rasanya menyenangkan gitu, sih, ya, bisa melakukan sesuatu yang memang pengin dan senang dilakukan. Pasti bekerja jadi terasa lebih menyenangkan dan rasanya jadi enggak kayak lagi kerja. Rasanya, ya, seperti bermain-main, melakukan hobi. Yang kayak gitu, sih, pasti impian semua orang banget, ya. :)

Bagi saya, orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang sangat diberkati. Kok bisa? Ya, karena mereka bisa melakukan hal yang mereka senangi setiap saat dan, hal yang paling baiknya, mereka dibayar untuk melakukannya. Kurang apa lagi coba? Dibayar untuk melakukan hobi. Siapa yang bisa nolak kalau begitu? Hehehe.

Menurut hemat saya, halah, ketika pekerjaan yang kita miliki merupakan sesuatu yang memang gemar kita lakukan, segala ‘reward’ (baca: gaji, penghasilan, fee, dsb) yang kita dapat dari pekerjaan tersebut adalah bonus. Iya, bonus.

Pengertian bonus di sini, masih menurut saya, adalah sesuatu yang kita dapatkan tanpa punya ekspektasi terhadapnya. Contohnya ketika main game lalu kita dapet nyawa tambahan atau uang karena berhasil menyelesaikan suatu misi, nah, itu namanya bonus.

Misalnya, ada orang yang hobi menggambar. Dia bekerja menjadi seorang ilustrator atau desainer atau apa pun pekerjaan yang mengharuskannya untuk menggambar. Ketika dia dibayar untuk karyanya, maka bayaran yang dia terima bisa dianggap sebagai bonus.

Begitu juga ketika orang-orang yang gemar menulis melakukan pekerjaan yang tidak jauh-jauh dari hobi mereka ini, misalnya menjadi penulis. Ada juga orang yang hobi berwisata kuliner, jalan-jalan, atau me-mix-and-match pakaian/aksesoris/make up yang kemudian menuangkan pengalaman mereka dalam food/traveling/fashion blog. Pendapatan yang mereka peroleh dari pekerjaan mereka adalah bonus karena mereka bekerja, mereka mendapatkan uang dari pekerjaan itu, tapi rasanya tidak seperti bekerja.

Bagaimana dengan saya? Saya sekarang, untungnya, termasuk salah satu orang yang hidup dari bonus. :)

Saya suka membaca dan sekarang bekerja sebagai editor buku yang, otomatis, pekerjaannya tidak jauh-jauh dari membaca. Memang baru editor pemula yang masih harus (sangat) banyak belajar, tapi saya yakin ini adalah proses yang harus dilewati untuk kemudian bisa menjadi editor (dan/atau penulis) profesional nantinya (amin). Karena pekerjaan yang saya lakukan sekarang merupakan hobi, maka gaji yang saya dapatkan dari pekerjaan ini saya anggap sebagai bonus. Saya tidak harus ‘memaksakan diri’ bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Rasanya seperti berhobi setiap hari.

Saya suka bernyanyi, khususnya di paduan suara. Saya tidak pernah berpikir untuk bekerja secara profesional di bidang ini karena sadar diri bahwa kemampuan bernyanyi saya, yah, enggak segitu hebatnya juga, sih. Hahaha. Tapi ada beberapa kesempatan di mana saya mendapatkan penghasilan tambahan dari hobi saya ini. Memang tidak banyak, tapi tetap bisa untuk jajan-jajan cantik seminggu-dua minggu. Kalau yang ini, sih, jelas adalah bonus karena bukan pekerjaan tetap.

Setelah dipikir-pikir, ternyata bisa dibilang selama ini saya hidup dari bonus, ya. Bonus karena melakukan hal-hal yang menjadi kesukaan atau hobi. Bonus karena saya tidak perlu ‘memaksakan diri’ untuk melakukan sesuatu yang tidak saya sukai. Bonus yang bisa menghidupi saya dan cukup dipakai untuk berbagi dengan orang lain meskipun tidak banyak.

Kalau begitu, nikmat apa lagi yang bisa kamu dustakan, Ris? :)

Mengutip twit Joko Anwar pagi tadi, a good job is the one that doesn’t feel like a job.

Dan saya tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan itu.

Pekerjaan itu pilihan. Apakah kamu memilih pekerjaan yang sesuai dengan passion-mu meskipun gajinya tidak terlalu besar, atau pekerjaan dengan gaji besar tapi sering harus ‘makan ati’ dalam melakukannya karena bukan passion-mu, semua itu hak masing-masing orang. Yang jelas, kalau kamu termasuk orang yang berhobi dan menghasilkan ‘bonus’ yang banyak dari pekerjaanmu itu, wah, berarti kamu adalah orang yang sangat beruntung dan diberkati! Selamat! :)

Akhirnya, semoga kita semua beruntung dengan pekerjaan apa pun yang sedang kita tekuni sekarang. Apa pun itu, semoga kita bisa melakukannya dengan sepenuh hati. Semoga!

:)

Aku, Kamu, Dia

“Kar, mau jadi pacarku, ya?”

Sekar melirik Vino yang duduk di seberangnya. Kedai kopi itu cukup sepi, hanya ada mereka berdua, seorang mas-mas dengan laptop dan headsetnya di kursi dekat pintu, dan sepasang mbak-mbak dan mas-mas di ujung yang berlawanan dengan mereka berdua.

Oke, kembali pada Vino yang baru saja menyatakan perasaannya pada Sekar.

Sekar terdiam. Lama. Alih-alih menjawab pertanyaan Vino, dia malah melirik-lirik kendaraan yang lalu lalang di jalanan depan kedai kopi itu. Sesekali ia mengaduk-aduk cokelat panas di hadapannya tanpa repot-repot meminumnya. Melihat Sekar tidak memberikan reaksi yang signifikan, Vino mengulangi pertanyaannya.

“Diem aja, Kar, gimana, mau jadi pacarku, ya?”

Sekar masih hening. Vino semakin salah tingkah.

“Jangan diem aja, dong, Kar, ngomong sesuatu, kek.”

“Aku harus bilang apa, Vin?” Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Sekar.

“Ya, apa kek, jawab pertanyaanku yang tadi, mungkin?”

“Harus dijawab sekarang, ya?”

“Ya, iya.”

Sekar mendesah. Hal yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi juga. Vino mengungkapkan perasaannya. Dan sekarang Sekar bingung harus menjawab bagaimana.

“Kok bisa, sih?”

“Apanya?”

“Kok bisa kamu suka sama aku? Sejak kapan?”

“Cukup lama. Aku nggak tau, Kar, it just happened, that way.”

“Tapi kamu belum kenal aku.”

“Justru aku pengin lebih kenal kamu.”

Sekar mengaduk-aduk cokelatnya lagi, yang sekarang sudah menjadi dingin.

“Kalau aku enggak seperti yang kamu harapkan gimana?”

Vino menghela napas.

“Aku nggak mengharapkan apa-apa, Kar. Misalnya nanti kamu mengiyakan, mungkin aku juga nggak sepenuhnya seperti yang kamu harapkan. Itu namanya proses. It’s totally normal.”

Sekar tersenyum, mengaduk cokelatnya, dan menyesapnya.

Bukannya Sekar tidak suka Vino. Dia suka. Suka sekali. Beberapa bulan ini Vino sudah menjadi bagian yang cukup penting dalam hidupnya. Vino baik, meskipun agak cuek. Tentu Sekar juga sempat membayangkan bagaimana jadinya jika hubungan mereka meningkat levelnya menjadi bukan sekadar teman biasa.

Tapi ada sesuatu yang membuat Sekar masih ragu. Sesuatu, berkaitan dengan masa lalunya.

“Kalau aku bilang iya, aku mau, tapi enggak sekarang, gimana?”

“Kenapa?”

Sekar diam sejenak.

“Ada beberapa hal yang harus aku bereskan dulu, Vin.”

Vino tampak berpikir, lalu berkata, “Tapi aku juga butuh kepastian, Kar.”

“Iya, aku tau.”

Kembali mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sekar ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu, maka ia mengurungkan niatnya untuk bicara. Entah apa yang ada dalam pikiran Vino, tapi ia juga memilih untuk diam.

“Sebelum aku jawab, ada yang mau aku ceritain, Vin.”

“Apa?”

“Tapi enggak sekarang.”

“Tentang apa?”

“Tentang aku.”

“Oke. Feel free to tell me when you are ready.”

Sekar menghela napas. Panjang. Dan hujan pun turun, merintik, di luar kedai kopi.

***

… to be continued.