Kali Ini, Rindu Itu Bernama Yogyakarta

Setelah hampir genap dua tahun meninggalkan Yogyakarta dan pindah ke kota metropolitan yang berisik ini, mungkin sekarang pertama kalinya saya mengucapkan kalimat ini.

Saya rindu Yogya.

Bukan rindu yang hanya sekadar “ah kangen rumah” dan semacamnya, tapi rindu yang beneran rindu. *lah emang rindu yang nggak beneran rindu itu gimana, Ris?*

malioboro
Salah satu sudut Malioboro. (Sumber: http://www.mlampah-mlampah.com)

Kok bisa dong ngakunya selama ini nggak pernah merasa rindu terus tiba-tiba rindu?

Izinkan hamba sedikit bercerita, dua hari sudah Mas Patjar dirawat di rumah sakit. Opnamenya supermendadak karena sehari sebelumnya ketemu juga doi masih sehat walafiat lahir batin sakinah mawadah warahmah. Anyway, mendaratlah doi di RSU U*I. RSU U*I dipilih karena relatif dekat dengan tempat tinggalnya dan ada teman dekatnya yang ko-as di sana.

Bahwasanya Mas Patjar ini tak pernah sekalipun sakit yang sampai separah harus opname di rumah sakit (well, dulu pas TK pernah sih karena gegar otak), oleh karena itu sebagai patjar yang normal ya saya khawatir dong. Maka sepulang dari kantor, saya pun bergegas menuju rumah sakit tempat doi dirawat.

Setelah hampir satu jam diantar Abang Grabbike menerjang jalanan Jakarta di jam pulang kantor yang tentunya Anda sudah tahu sendiri bagaimana keadaannya, sampailah saya di rumah sakit.

Seumur hidup, yang namanya rumah sakit, saya kenalnya ya RSPR alias Rumah Sakit Panti Rapih di Yogya. Belum pernah sampai dirawat sih, puji Tuhan, tapi sering menunggu keluarga yang sedang dirawat di sana.

Sayangnya di Jakarta saya belum bisa menemukan rumah sakit yang menurut saya senyaman Panti Rapih. Yang bersih, rapi, tenaga medisnya oke, dan relatif murah biayanya. Ya nggak berharap untuk sakit dan dirawat juga sih ya tapi kan kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Rumah sakit tempat Mas Patjar dirawat kali ini mungkin nilainya cuma setengah dari RSPR.

Nah, sebelum postingan ini malah jadi postingan reviu rumah sakit, mari kita kembali kepada premis awal tulisan ini. Rindu Yogya.

Peristiwa sakitnya Mas Patjar dan segala keribetan mengurusi segala sesuatunya termasuk capeknya bolak-balik kosan-RS ini ternyata cukup menyentil saya. Jakarta keras, semua orang juga tahu. Tapi Yogyakarta sungguh-sungguh Berhati Nyaman, mungkin tidak semua orang mengalaminya.

Punya orang tua dan trah keluarga besar yang Yogya tulen tidak membuat saya merasa serta merta menjadi orang Yogya meskipun KTP jelas-jelas KTP Yogya. Ini karena saya baru sungguh-sungguh meresapi Yogya ketika duduk di bangku kuliah.

Karenanya saya tidak akan menyama-nyamakan diri dengan teman-teman yang memang orang Yogya seasli-aslinya, seumur hidup sudah tinggal di Yogya. Saya mah apa atuh, cuman pendatang penambah kemacetan di jalanan Sagan.

Tujuh tahun saya tinggal di Yogya. Turut menyumbang polusi dengan asap karbon monoksida yang hampir tidak pernah absen mengepul dari Si Biru Cina, sepeda motor kesayangan saya. Bagaimana mau absen, kegiatan sehari-hari semasa kuliah sampai bekerja ya kalau nggak kuliah, kerja, ya main dan kota-kota.

Kota-kota itu istilah untuk kegiatan muter-muter kota dengan ataupun tanpa tujuan yang pasti.

Yogya ketika awal saya jadi mahasiswa belum macet dan riuh seperti sekarang. Perjalanan rumah-kampus bisa ditempuh dalam waktu sepuluh menit saja, suatu hal yang mustahil dilakukan di Jakarta kecuali jarak rumah-kampus hanya sejauh kosan Pejambon-kantor Kemlu.

Begitupun, saya yakin sebelum-sebelumnya Yogya bahkan jauh lebih tenang dan ayem.

Dulu saya kira rasa rindu pada Yogya hanya sebatas rasa kangen pada rumah dan Mas Patjar. Tapi ternyata rasa rindu jauh melebihi itu semua. Saya rindu Yogya dengan segala partikel-partikel kecilnya.

Saya rindu Yogya dengan segala kesederhanaannya. Sesederhana perasaan bahagia saat bisa makan kenyang hanya dengan lima ribu rupiah saja. Sesederhana rasa kagum saat memandangi pucuk Merapi yang berkabut sambil melamun dari loteng rumah seusai menjemur cucian basah. Sesederhana serunya nongkrong tengah malam di nol kilometer bersama teman dan bercerita tentang apa saja.

Saya rindu Yogya dengan segala ketidakmodernan dan keterbatasannya. Saya ingat waktu itu bioskop 21 di Yogya hanya ada satu dan bagaimana saya mengeluh karenanya secara saya besar di Surabaya. Jangankan saat premier filmnya, seminggu berikutnya sudah pasti antrean pembeli tiket bioskop mengular dengan tidak sopannya.

Sekarang Yogya sudah modern. Mall sudah banyak. Bioskop tinggal pilih saja. Kafe tempat ngopi-ngopi lucu pun bisa ditemukan di mana-mana.

Saya rindu Yogya dengan keberagamannya. Pergilah ke kampus UGM dan Anda akan menemukan orang-orang dari berbagai suku bangsa. Jawa, Cina, Papua, semua ada.

Saya rindu Yogya dengan segala kemudahannya. Semudah pergi ke mana-mana dengan naik motor atau nebeng teman saja. Sayang memang sampai sekarang Yogya belum punya sistem transportasi umum yang mumpuni. Transjogja seringnya masih mitos jadwalnya. Eh, tapi ke mana-mana bisa naik becak atau ojek kok!

Sekilas pesan sponsor, sekarang di Yogya sudah ada Go-Jek, saudara-saudara.

Mungkin sampai sini Anda merasa saya terlalu mengagung-agungkan Yogya. Menjelaskan reaksi saya yang cenderung defensif jika ada orang yang nyinyir soal Yogya. Ini sih fanatisme, semu, mungkin kata Anda.

Tapi Anda memang harus tinggal dulu di Yogya untuk mampu merasakan semua rasa yang saya rasakan. Setahun, mungkin, atau dua. Belum cukup memang untuk sampai membuat Yogya mendarah daging pada diri Anda, namun saya janji Anda akan setuju dengan saya tentang kenyamanannya.

Di Yogya waktu berjalan lebih lambat, begitu selalu saya katakan pada teman-teman yang bertanya dan sebagian besar mengakuinya.

Mungkin karena memang pada dasarnya saya orangnya males mager (terlalu) santai, pace hidup saya sangat in tune dengan pace kehidupan sehari-hari di Yogya. Keharusan untuk pindah ke Jakarta itu sejujurnya neraka.

Hidup itu lucu, ya. Dulu saya memutuskan ingin kuliah di Yogya karena merasa lelah dengan kehidupan saya yang dirasa-rasa membosankan dan stagnan. Yogya yang awalnya saya jadikan tempat pelarian ternyata malah menjadi salah satu fase paling penting dalam kehidupan dan pendewasaan.

Yogya sudah terlalu banyak mengubah saya. Menambah pengalaman-pengalaman dan memberi pelajaran berharga. Yogya mengenalkan saya dengan teman-teman baru, sahabat-sahabat dekat, dan keluarga.

Terakhir tapi tak kalah penting, Yogya bagi saya juga romantis, karena telah mempertemukan tangan-tangan yang mampu saling mengisi di antara jemari, sampai saat ini. Semoga sampai nanti.

Hadeh, tulisan ini tampaknya terlalu panjang. Maaf jikalau membosankan. Tapi beneran saya sedang rindu pada kota kecil yang jika liburan alamak ramainya ini.

With Fifin
And that pretty much sums up everything. (Sumber: good people in the www)

Ini rinduku, apa rindumu?

Cheers,

RSA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s