Aku, Kamu, Dia

“Kar, mau jadi pacarku, ya?”

Sekar melirik Vino yang duduk di seberangnya. Kedai kopi itu cukup sepi, hanya ada mereka berdua, seorang mas-mas dengan laptop dan headsetnya di kursi dekat pintu, dan sepasang mbak-mbak dan mas-mas di ujung yang berlawanan dengan mereka berdua.

Oke, kembali pada Vino yang baru saja menyatakan perasaannya pada Sekar.

Sekar terdiam. Lama. Alih-alih menjawab pertanyaan Vino, dia malah melirik-lirik kendaraan yang lalu lalang di jalanan depan kedai kopi itu. Sesekali ia mengaduk-aduk cokelat panas di hadapannya tanpa repot-repot meminumnya. Melihat Sekar tidak memberikan reaksi yang signifikan, Vino mengulangi pertanyaannya.

“Diem aja, Kar, gimana, mau jadi pacarku, ya?”

Sekar masih hening. Vino semakin salah tingkah.

“Jangan diem aja, dong, Kar, ngomong sesuatu, kek.”

“Aku harus bilang apa, Vin?” Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Sekar.

“Ya, apa kek, jawab pertanyaanku yang tadi, mungkin?”

“Harus dijawab sekarang, ya?”

“Ya, iya.”

Sekar mendesah. Hal yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi juga. Vino mengungkapkan perasaannya. Dan sekarang Sekar bingung harus menjawab bagaimana.

“Kok bisa, sih?”

“Apanya?”

“Kok bisa kamu suka sama aku? Sejak kapan?”

“Cukup lama. Aku nggak tau, Kar, it just happened, that way.”

“Tapi kamu belum kenal aku.”

“Justru aku pengin lebih kenal kamu.”

Sekar mengaduk-aduk cokelatnya lagi, yang sekarang sudah menjadi dingin.

“Kalau aku enggak seperti yang kamu harapkan gimana?”

Vino menghela napas.

“Aku nggak mengharapkan apa-apa, Kar. Misalnya nanti kamu mengiyakan, mungkin aku juga nggak sepenuhnya seperti yang kamu harapkan. Itu namanya proses. It’s totally normal.”

Sekar tersenyum, mengaduk cokelatnya, dan menyesapnya.

Bukannya Sekar tidak suka Vino. Dia suka. Suka sekali. Beberapa bulan ini Vino sudah menjadi bagian yang cukup penting dalam hidupnya. Vino baik, meskipun agak cuek. Tentu Sekar juga sempat membayangkan bagaimana jadinya jika hubungan mereka meningkat levelnya menjadi bukan sekadar teman biasa.

Tapi ada sesuatu yang membuat Sekar masih ragu. Sesuatu, berkaitan dengan masa lalunya.

“Kalau aku bilang iya, aku mau, tapi enggak sekarang, gimana?”

“Kenapa?”

Sekar diam sejenak.

“Ada beberapa hal yang harus aku bereskan dulu, Vin.”

Vino tampak berpikir, lalu berkata, “Tapi aku juga butuh kepastian, Kar.”

“Iya, aku tau.”

Kembali mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sekar ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu, maka ia mengurungkan niatnya untuk bicara. Entah apa yang ada dalam pikiran Vino, tapi ia juga memilih untuk diam.

“Sebelum aku jawab, ada yang mau aku ceritain, Vin.”

“Apa?”

“Tapi enggak sekarang.”

“Tentang apa?”

“Tentang aku.”

“Oke. Feel free to tell me when you are ready.”

Sekar menghela napas. Panjang. Dan hujan pun turun, merintik, di luar kedai kopi.

***

… to be continued.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s