Ada Cerita Dalam Hujan dan Senja

“Hujan lagi,” keluhku, ketika lagi-lagi kita harus berteduh di pinggir jalan karena lupa membawa jas hujan.

“Iya, asyik, kan?” jawabmu sambil tertawa kecil.

Aku melotot. “Enggak.”

Dan kamu tergelak melihat ekspresiku yang menurutmu lucu.

“Tahu tidak? Aku suka hujan,” katamu, seakan itu informasi mahapenting.

“Kamu tahu sendiri aku tidak suka hujan,” jawabku.

“Aku suka hujan, dan kamu.”

“Aku mau kamu suka aku saja, tanpa hujan.”

“Aku mau kamu ada di setiap hujan yang turun di hari-hariku.”

Aku menoleh. “Cuma di hari hujan saja? Aku bukan payung, atau jas hujan.”

Kamu tergelak lagi. Aku heran, apa yang membuatku tampak begitu lucu di matamu.

“Aku tidak mau kamu jadi payung, atau jas hujan untukku. Aku mau kamu bersamaku. Sekarang, besok, tahun depan, sepuluh atau limapuluh tahun lagi. Entah hari hujan atau panas, aku mau kamu.”

Aku menoleh. “Kamu melamarku?”

“Tergantung. Kalau kamu mengiyakan, ini sungguh merupakan tawaran dengan jaminan seumur hidupku. Kalau kamu menolak, kamu bisa menganggapnya seperti air hujan ini, yang jatuh ke tanah. Jika beruntung tanah akan menyerapnya. Jika tidak, nantinya ia mengalir ke selokan, kemudian ke laut, bersatu dengan perasaan-perasaan lain yang tercecer dan tertinggal.”

“Kamu melamar saja pakai pidato.”

“Jadi kamu mau?”

Aku terdiam. Bukan berpikir. Aku sudah tahu jawaban untuk pertanyaan ini sejak kita bertemu.

“Kalau kamu bisa menghentikan hujan ini untukku, aku mau.”

Dahimu mengernyit sejenak. Lalu tertawa untuk kemudian tersenyum.

“Aku memang bukan Tuhan, tidak sanggup menghentikan hujan ini. Tapi aku bisa selalu ada dalam hujanmu, bahkan dalam hujan di sudut hatimu yang tidak kamu sadari.”

Setelah kamu berkata seperti itu, hujan yang tadinya deras mulai menggerimis. Kamu menoleh, lalu mengerling senang padaku.

“Tuh, bahkan semesta pun mendukungku. Kamu bagaimana?” katamu sambil masih tersenyum.

“Kamu enggak romantis banget, sih, masak melamar di warung pinggir jalan.”

“Tapi kamu tetap mau, kan?”

Kamu masih tersenyum. Semakin lebar senyum itu, semakin cepat pula awan-awan mendung beralih dari langit itu. Cahaya matahari mulai bersinar. Cerah, meski senja, secerah stok senyummu yang tampaknya tidak ada habisnya.

“Sayangnya iya,” kataku pada akhirnya.

Senyummu lebar mengatasi cahaya matahari senja.

“Yuk, pulang.”

Kamu pun menggamit tanganku, menuntunku, pulang. Perlahan, sayup, matahari senja dan angin sore membisikkan selamat, untukmu, untukku.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s