Because Quitting Smoking is Not (THAT) Easy

So, I heard today is World No Tobacco day, atau hari tanpa tembakau sedunia, atau singkatnya, hari tanpa rokok sedunia. Yeah, rokok.

Mumpung hari ini adalah hari tanpa rokok sedunia, mari kita berbincang tentang rokok.

Rokok telah lama menjadi topik perbincangan serius terutama dalam dunia kesehatan. Tidak heran memang karena menurut ahli-ahli kesehatan, rokok (yang dirokok tentu saja) bisa menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan bagi tubuh manusia. Singkatnya, rokok bukanlah konsumsi yang sehat bagi tubuh kita.

Tentu di sini saya tidak mau berbicara mengenai rokok dari segi ilmiah. Bisa dibantai nanti saya sama dokter dan ahli-ahli kesehatan. Yang saya ingin ungkapkan di sini adalah kebiasaan merokok. Yep, smoking as a habit.

Hari ini orang ramai-ramai berkampanye stop merokok. Orang berkata ini itu yang intinya mereka mengimbau para perokok untuk berhenti merokok. Banyak dari mereka berkata kurang lebih begini: “ayo stop merokok, saya bisa, kamu pun pasti juga bisa.” Yang saya ingin tanyakan, berapa banyak dari mereka yang berkata “saya bisa, kamu pun pasti juga bisa” tadi adalah orang yang benar-benar ‘mantan’ perokok?

Oke, biar saya luruskan. Saya bukan perokok, dan tidak pernah berminat menjadi perokok. Saya juga tidak senang pada asap rokok. Of course. It’s deadly, are you kidding me? Jadi tentu saja saya sangat mendukung para perokok untuk berhenti merokok.

Tapi orang-orang yang mengimbau orang lain untuk berhenti merokok padahal mereka bahkan belum pernah merasakan rasanya mengisap rokok itu seperti apa, they are really sickening. Why? Karena mereka tidak tahu betapa sulitnya melepaskan diri dari rokok bagi orang-orang yang sudah terbiasa berkawan dengan nikotin dalam paru-paru mereka.

Biasanya imbauan untuk berhenti merokok disertai dengan peringatan akan bahayanya merokok bagi tubuh. Well, trust me, that is actually useless because smokers have understood the danger of that little thing called cigarette but they still consume it anyway. Mereka sadar betul kok bahayanya merokok, tapi karena sudah kebiasaan, ya gitu, jadi susah ditinggalkan. They live and breathe with it.

Sejauh yang saya amati, perokok akan berhenti merokok ketika mereka mulai merasakan akibat negatif dari kebiasaan itu, misalnya, terserang penyakit yang berhubungan dengan paru-paru. Biasanya setelah itu mereka akan berpikir ulang untuk melanjutkan kebiasaan merokoknya. Syukur-syukur jika mereka kapok dan berhenti saat itu juga.

Ada juga orang yang setelah terkena penyakit berat, seperti serangan jantung atau stroke, baru kemudian memutuskan untuk berhenti merokok. Yang jelas, tidak ada tuh, orang yang berhenti merokok hanya karena terpengaruh oleh imbauan dan retorika tentang bahayanya merokok.

Some of my closest friends (even my father) are very active smokers. Dan percaya deh, mereka tahu betul bahayanya merokok. Yeah, sebagai orang yang tidak senang (bukan anti sih, ya masak menjauhi teman sendiri hanya karena mereka merokok) pada rokok, ralat, asap rokok, tentu saya jengah juga jika mereka merokok banyak-banyak dekat saya. Jika sudah begitu saya pasti akan memosisikan diri di posisi yang berlawanan dengan arah asap dari si rokok ketika sedang nongkrong bareng.

Hal termudah untuk menjauhkan mereka dari rokok selama lagi nongkrong bareng, ya pilih tempat nongkrong atau yang tidak memungkinkan mereka untuk merokok. Yah, meskipun mereka tentu saja tidak akan betah tinggal lama-lama di non-smoking area. Hahaha. Tapi setidaknya hal itu sudah ikut mengurangi frekuensi merokok mereka meskipun hanya sedikit.

Have I told them to quit smoking? Of course I have. Tapi ya kembali lagi ke masalah di awal tadi, it is pointless to remind them again and again, they will only stop once they experience the negative effect of it.

Lantas apakah saya menyerah sampai di situ saja? Oh, tentu tidak. Kan kalau mereka merokok dekat-dekat saya, saya juga yang rugi. Yang jelas sih saya berusaha meminimalisir konsumsi rokok mereka selama bersama saya. Teguran halus cukup, kok, untuk mencegah mereka mengisap berbatang-batang rokok.

Jadi, begitulah, jika kamu belum merasakan bagaimana rasanya merokok, jangan deh mengatakan hal seperti “yuk berhenti merokok, saya bisa, kamu pasti bisa”. Kamu bisa karena kamu tidak pernah mengalaminya sendiri. Tentu mudah berkata “bisa” jika belum pernah melalui prosesnya.

Bukan saya menentang orang yang berkampanye stop merokok, lho, ya. Saya juga ingin hidup tanpa asap rokok seperti keinginan orang kebanyakan kok. Dan memang perokok yang merokok di tempat umum tanpa peduli pada sekitarnya adalah fak banget. Tapi saya paham bahwa berhenti merokok adalah hal yang sangat sulit. Butuh usaha, niat, dan dukungan yang kuat baik dari dalam diri sendiri maupun orang lain.

Percaya deh, kalau kamu berkata aku-bisa-kamu-pasti-juga-bisa seperti di atas pada perokok, mereka akan mencibirmu dan bertanya emang-elo-siapa-emang-pernah-ngerokok-juga. Jadi, mari berkampanye dengan lebih kreatif dan inovatif lagi sehingga hasilnya akan lebih positif dan efisien.

Welah, jadi panjang amat ini tulisan. Hahaha. Oke, sampai di sini saja perjumpaan kita hari ini. Sampai ketemu di waktu-waktu selo yang lainnya. Salam. :)

P.S. Tulisan ini dibuat di kala selo dan tidak bermaksud mengundang perdebatan. Cuma sedikit pendapat selo aja. Serius. :)

Banyak Drama di Akhir Minggu

Jadi, di penghujung minggu ini saya menyimpulkan bahwa ini adalah salah satu akhir minggu paling dramatis yang pernah saya lalui (atau amati). Diawali dengan kemenangan Fatin di ajang pencarian bakat X Factor, lalu perayaan Waisak yang meninggalkan banyak cerita, dan ajang musik Locstock 2 yang kisruh berakhir dengan meninggalnya ketua panitia penyelenggara. Oke. Enough said.

Pertama, kemenangan Fatin. Yeah, we all know that this talent search show is full of drama (and made based on such a lame scenario). Mulai dari jagoan-jagoan dengan suara dan kemampuan gemilang yang sudah tersisih sejak awal kompetisi, lalu ketika si juara ini menangis di salah satu episode di mana dia tampil buruk karena lupa lirik, sampai kabar bahwa ternyata acara ini sebenarnya diboncengi oleh salah satu partai peserta Pemilu tahun depan. I only thanked God that I did not watch this show at all.

Lalu ada kabar dari Borobudur, tentang perayaan Waisak yang harusnya sakral berubah menjadi atraksi wisata, karena banyaknya wisatawan dan ‘fotografer’ yang tidak tahu sopan santun. Memang tidak semua berlaku seperti itu. Saya yakin masih banyak wisatawan dan fotografer sungguhan yang memang datang karena ingin turut merasakan dan mengabadikan momen sakral ini bersama umat Budha tanpa mengganggu kekusyukan ibadah mereka. Yah, tapi tetap saja yang kena semua orang, kan? Entah siapa yang salah, pihak pengurus candi atau wisatawan berakal pendek. Yang jelas, dari artikel-artikel yang sempat saya baca, sepertinya perayaan Waisak yang sekarang sudah melenceng dari tujuan sesungguhnya yaitu ibadah hari besar umat Budha yang sakral dan khidmat.

Terakhir, ajang festival musik Locstock 2 yang berujung ricuh karena acaranya, hemm, bubar. Banyak penampil yang ternyata batal manggung karena masalah administrasi, alias pembayaran, yang tidak jelas. Bahkan acara yang terjadwal dua hari, Sabtu-Minggu, dipotong menjadi sehari saja. Show hari Minggu dibatalkan. Setelah itu terdengar kabar bahwa ketua penyelenggara membawa kabur uang yang seharusnya digunakan untuk membayar para penampil. Entah bagaimana sebenarnya duduk perkara masalah ini, yang jelas kekisruhan acara ini memicu emosi para fans yang telah terlanjur berharap banyak pada acara ini. Caci maki tanpa ujung berakhir dengan kabar meninggalnya ketua penyelenggara karena bunuh diri.

Well, saya tidak ingin memberi komentar panjang lebar untuk hal-hal di atas. Banyak orang di luar sana yang lebih pintar dari saya yang sudah puas (atau belum) membicarakannya sepanjang akhir minggu ini. Ada yang saya amini, beberapa tidak. Yang jelas, at the end of the day, I realize that sometimes life is only a puzzle of some unfortunate, tragic, and dramatic events.

Hidup itu penuh drama. Yang tidak setuju boleh angkat tangan dan keluar ruangan. Selalu ada drama di sini dan di sana, di balik kemenangan Fatin, keramaian Waisak, kekisruhan Locstock, dalam hidup saya, hidup kamu, penuh dengan drama. Ada drama yang berakhir manis, ada yang berakhir asam, bahkan pahit. Ketika berakhir manis, jangan terlena, tapi ketika pahit pun, jangan pula putus asa. Dan ketika semua drama itu berakhir, janganlah kamu lupa untuk move on. Entah berakhir manis ataupun pahit, hidup harus tetap berjalan. Hidup memang penuh drama, kawan. Mari hadapi dengan senyum menawan.

Karena semua drama pada akhirnya akan ditutup dengan kalimat: Yah, yaudahsih ya. :)

Ada Cerita Dalam Hujan dan Senja

“Hujan lagi,” keluhku, ketika lagi-lagi kita harus berteduh di pinggir jalan karena lupa membawa jas hujan.

“Iya, asyik, kan?” jawabmu sambil tertawa kecil.

Aku melotot. “Enggak.”

Dan kamu tergelak melihat ekspresiku yang menurutmu lucu.

“Tahu tidak? Aku suka hujan,” katamu, seakan itu informasi mahapenting.

“Kamu tahu sendiri aku tidak suka hujan,” jawabku.

“Aku suka hujan, dan kamu.”

“Aku mau kamu suka aku saja, tanpa hujan.”

“Aku mau kamu ada di setiap hujan yang turun di hari-hariku.”

Aku menoleh. “Cuma di hari hujan saja? Aku bukan payung, atau jas hujan.”

Kamu tergelak lagi. Aku heran, apa yang membuatku tampak begitu lucu di matamu.

“Aku tidak mau kamu jadi payung, atau jas hujan untukku. Aku mau kamu bersamaku. Sekarang, besok, tahun depan, sepuluh atau limapuluh tahun lagi. Entah hari hujan atau panas, aku mau kamu.”

Aku menoleh. “Kamu melamarku?”

“Tergantung. Kalau kamu mengiyakan, ini sungguh merupakan tawaran dengan jaminan seumur hidupku. Kalau kamu menolak, kamu bisa menganggapnya seperti air hujan ini, yang jatuh ke tanah. Jika beruntung tanah akan menyerapnya. Jika tidak, nantinya ia mengalir ke selokan, kemudian ke laut, bersatu dengan perasaan-perasaan lain yang tercecer dan tertinggal.”

“Kamu melamar saja pakai pidato.”

“Jadi kamu mau?”

Aku terdiam. Bukan berpikir. Aku sudah tahu jawaban untuk pertanyaan ini sejak kita bertemu.

“Kalau kamu bisa menghentikan hujan ini untukku, aku mau.”

Dahimu mengernyit sejenak. Lalu tertawa untuk kemudian tersenyum.

“Aku memang bukan Tuhan, tidak sanggup menghentikan hujan ini. Tapi aku bisa selalu ada dalam hujanmu, bahkan dalam hujan di sudut hatimu yang tidak kamu sadari.”

Setelah kamu berkata seperti itu, hujan yang tadinya deras mulai menggerimis. Kamu menoleh, lalu mengerling senang padaku.

“Tuh, bahkan semesta pun mendukungku. Kamu bagaimana?” katamu sambil masih tersenyum.

“Kamu enggak romantis banget, sih, masak melamar di warung pinggir jalan.”

“Tapi kamu tetap mau, kan?”

Kamu masih tersenyum. Semakin lebar senyum itu, semakin cepat pula awan-awan mendung beralih dari langit itu. Cahaya matahari mulai bersinar. Cerah, meski senja, secerah stok senyummu yang tampaknya tidak ada habisnya.

“Sayangnya iya,” kataku pada akhirnya.

Senyummu lebar mengatasi cahaya matahari senja.

“Yuk, pulang.”

Kamu pun menggamit tanganku, menuntunku, pulang. Perlahan, sayup, matahari senja dan angin sore membisikkan selamat, untukmu, untukku.

***

My Poor English

I just read my latest post and feel ashamed of it. Hahaha. Why? Because I wrote it in English and it was awful. And what makes me more ashamed is because I was majoring English Language at college. Well, enough said.

Since I left my previous job as content writer, I barely write anything in English. Previously, I wrote ten articles, normally, in English everyday due to my job. But now I don’t have to write anymore and I guess my English becomes dull.

So, please forgive my poor English. Everything’s gonna be better later. Hopefully. Lol. :D

Teaching Passionately

One of the most important things (or should I say the ultimate important thing) in teaching is passion. Well, I know that we need passion for everything that we do, but for teaching, passion really plays an important role.

If people say that teaching is easy, well you may say that it is a big lie. Because teaching has never been easy, especially for those who are not passionate on it. For example, myself. Since I can think about my future properly, I have known that teaching is one of those things that I don’t want to do as my future career. Why? Well, because I think I can’t teach. As simple as that. And from some experiences, I found out that I’m not mistaken. I really am a bad teacher. Hahaha.

I’m giving a private English course for a kid in fourth grade as a side job. This is the only one course that I’ve ever gave since forever. I’ve been doing this job for 9 months now. The only reason why I took this job months ago is because I was such a desperate jobless fresh graduate and I decided to take it simply because I need some activity to do after my college graduation. And the salary is also good.

I have no experience in teaching. That is if you don’t count my KKN program which is: teaching. Hahaha. But basically I really have no idea about teaching, how to teach properly or the best way to convey the lesson to the student. I know the theory, but theory is always easier to say than practical things, isn’t it? I’m still struggling with this teaching thing even until now after 9 months teaching. And it is only a 4th grader. What should I do if I have to teach some older student even older than me? I can’t imagine the nightmare.

Another thing about teaching is many people think that teaching is only a job that you can do after you can’t get your dreamed job. That is a big mistake. What if all teachers in this world have such mind set? That would be a disaster, really. Because something that is not done from the heart won’t give an optimum result. This is why I said passion, despite the brain, is very important in teaching. When you teach the student wholeheartedly, the result will be wonderful. You can find the solution for any problem you have in the teaching process and you love your student as much as you love yourself. You will give the best of you for them.

But, still, I’m not that kind of person. Hahaha. I enjoy my teaching job, but if you ask me whether I’ll do it as a lifetime career, I’ll still say no. And the reason is still because I’m not passionate on this thing, besides that I understand that I’m not a good teacher either. Lol. But still the main reason is because this is not the field where my passion lies.

So is there any more people who say that teaching is easy? I’ll hang them on the edge of a cliff. Hahaha. A good teacher will make a good student. A teacher really is a very important job and it is not something that you can do as you please. You need to have the brain and the passion. Both of them will make you a wonderful and unbeatable teacher.

Have a good teaching experience dear you all teachers in the world! ;)

Butterflies on My Tummy

I don’t know why I can’t get this song out of my head for these couple days. This is the song from Mocca, entitled Butterflies in My Tummy. I played it over and over again in my playlist, literally, and I still can’t get it enough even until now and I don’t know why. You can listen to the song by yourself and maybe you’ll know why this song sticks in my head as if it is glued.

So here’s the lyrics, Butterflies in My Tummy.

..I have butterflies flying around inside my tummy when I’m with you
I hear bell chimes ringing blown by winds of spring when I’m with you

Oh this tingling feeling makes me wanna jump, makes me wanna shout across the room
Oh this feeling of longing, but damn it’s so blinding
I just can’t tell if I feel happy or sad

I hear blue birds singing up around the tree when I’m with you
I see rainbows appearing everywhere I go when I’m with you

Oh this tingling feeling makes me wanna sigh, makes me wanna fly across the moon
Oh this feeling of longing, but damn it’s so blinding
I just can’t tell if I feel happy or sad

I have butterflies flying around inside my tummy when I’m with you..

:)

Sad

This one is a song from Maroon 5 from their album Overexposed. This is one of my favorite. And just like the title, the song is very sad. And now I can feel how sad it is.

***

Man, it’s been a long day
Stuck thinking ’bout it driving on the freeway
Wondering if I really tried everything I could
Not knowing if I should try a little harder

Oh, but I’m scared to death that there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding on by a thin, thin thread

I’m kicking the curb cause you never heard the words that you needed so bad
And I’m kicking the dirt cause I never gave you the things that you needed to have
I’m so sad, sad

Man, it’s been a long night
Just sitting here, trying not to look back
Still looking at the road we never drove on
And wondering if the one I chose was the right one

Oh, but I’m scared to death that there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding on by a thin, thin thread

I’m kicking the curb cause you never heard the words that you needed so bad
And I’m kicking the dirt cause I never gave you the things that you needed to have
I’m so sad, sad

I’m so sad, so sad