Cokelat Hitam

Aku tidak suka dark chocolate. Kamu berkata begitu sambil memandangku yang sedang memilih-milih cokelat di rak supermarket. Dark chocolate itu pahit, katamu.

Justru itu enaknya dark chocolate. Aku membantah argumenmu. Bagiku cokelat yang enak adalah cokelat dengan perpaduan rasa manis dan pahit yang seimbang. Tidak boleh terlalu manis, namun juga jangan sampai rasa pahitnya terlalu menusuk lidah. Itulah seninya makan cokelat, kataku.

Kamu tetap kukuh dengan pendapatmu, dan aku pun telah berhasil memilih satu bar dark chocolate dari rak itu. Toh, bukan kamu juga yang akan memakan cokelat itu, kan?

Hidup itu rasanya seperti dark chocolate. Manis, tapi ada pahit-pahitnya juga. Karena bagaimanapun tidak ada hidup yang selamanya manis-manis saja. Pahit dibutuhkan untuk menyeimbangkan rasa, agar tidak terlena dengan manisnya. Tapi sepahit-pahitnya, pasti rasa manisnya lebih dominan. Karena hidup itu baik, meskipun terkadang ia juga pahit.

Kamu hanya mengangkat bahu. Aku tertawa lalu segera berjalan menuju kasir untuk membayar cokelat dan barang belanjaan lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s