Bukan Cinta, Suka Saja

Lagi. Sepasang mata itu lagi-lagi memandang, atau lebih tepatnya mencuri pandang ke arah yang sama. Ini yang ketiga kalinya dalam hari ini aku memergoki sepasang mata itu memandang ke sini, padaku lebih tepatnya. Bukan maksudku untuk GR atau apa, tapi sialnya kedua mataku pun tidak mau kalah untuk terus-terusan mencuri pandang ke arahnya. Impas, kan?

“Ta, yuk keluar!” Fina teman seruanganku menepuk bahuku.

“Yuk,” jawabku lekas, sambil menarik pandanganku dari sosok yang masih membuatku penasaran itu.

Kami keluar kantor dengan rencana ingin membeli mi ayam sebagai makan siang kami hari itu. Kantor kami memang menyediakan makan siang, tapi kadang-kadang kami tidak cocok dengan menunya sehingga seringkali kami memutuskan untuk pergi makan di luar kantor ketika jam istirahat siang tiba. Tujuan kami hari ini adalah sebuah warung mi ayam sederhana yang letaknya sekitar 50 meter dari kantor. Belum juga kami keluar dari halaman kantor, aku tiba-tiba teringat akan sesuatu.

“Tunggu sebentar, Fin, dompetku ketinggalan.”

Fina menawarkan diri untuk memakai uangnya dulu tapi aku menolak karena aku ingin sekalian mampir ke ATM. Aku pun setengah berlari menuju ke ruanganku karena memang waktu istirahat yang diberikan tidak terlalu lama. Ketika menaiki tangga aku mendongak dan dia ada di sana, sedang bergegas turun. Dia tersenyum. Aku tersenyum sekilas lalu menundukkan kepalaku. Jika aku terlambat sedetik saja menundukkan kepala, aku yakin dia pasti melihat semu merah di wajahku. Malu pastinya.

Secepat kilat aku mengambil dompet dan menghampiri Fina yang menunggu di depan kantor, kami segera pergi melaksanakan misi kami berburu mi ayam.

“Ta, pulang kerja nanti ke Toko Buku bentar yuk, aku mau beli buku nih,” kata Fina ketika dua mangkuk mi ayam yang mengepul menggoda telah tersaji di depan kami.

“Ciee, lagi kaya nih mau beli-beli buku,” aku tergelak.

“Bukan gitu, Ibuku tadi nitip buku resep kue, mau coba-coba bikin sih, kayaknya.”

“Asik, bagi-bagi dong ya besok! Ah, tapi aku nggak bisa Fin nanti sore. Aku nggak bawa motor hari ini.”

“Oh, dianterin sama Tama ya?”

Aku menganggukkan kepala. Tama adalah nama pacarku.

Oke, mari aku jelaskan. Namaku Gita. Aku bekerja di sebuah perusahaan advertising sebagai copywriter. Temanku ini Fina, teman seruangan yang kukenal sejak pertama kali aku masuk ke kantor ini. Pacarku, yang tadi disebutkan oleh Fina, bernama Tama. Dan benar sekali, orang yang kuceritakan mencuri pandang padaku dan sebaliknya, adalah seseorang di kantorku yang bahkan belum kukenal namanya.

Tapi tunggu dulu. Jangan terburu-buru mencapku sebagai pacar tidak setia karena sudah punya pacar tapi masih saja melirik-lirik cowok lain. Secara personal aku menyukai orang ini semata-mata karena aku suka dan menurutku dia memang menarik. Tipe aku bangetlah istilahnya. Toh, suka bukan berarti aku ingin menjadi pacarnya. Tapi seandainya kami bisa jadi lebih dekat, itu bonus.

***

Aneh bahwa satu senyuman saja bisa membuatmu memikirkan seseorang sampai sedemikian intensnya. Mungkin dia juga berpikir demikian. Ah, jangan-jangan dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tiap kali ide ini muncul di kepala, aku segera menghapusnya dengan berkata dalam hati, “Ingat Ta, kamu sudah punya Tama.” Untungnya hal ini cukup menolong.

***

“Ta, Gita!”

Aku tersentak sampai hampir jatuh dari kursiku karena teguran Fina.

“Yaelah Fin, santai dikit napa manggilnya,” kataku setengah sebal.

“Hahaha, habisnya kamu ngelamun aja gitu. Udah jam pulang nih, udah lewat malahan. Kamu mau lembur?”

Aku melirik jam di kantor dan kaget sendiri.

“Wah, udah jam 4! Kamu duluan aja deh, Fin, aku masih mau beresin barang-barangku dulu.”

Fina melambai padaku dan berlalu. Aku bergegas mengemasi barang-barangku yang sedikit berserakan di atas meja. Untung hari ini aku berangkat sendiri ke kantor, kalau tidak Tama bisa manyun karena lama menungguku. Setelah semua beres aku pun beranjak dari ruanganku.

Mungkin semesta sedang berkonspirasi atasku. Sesampainya di tempat parkir aku menemukan bahwa sepeda motorku terapit dua sepeda motor lain di kanan kiri dan saking mepetnya aku tidak bisa mengeluarkan motorku sendiri. ‘Oh, great,’ keluhku dalam hati. Aku menengok kanan kiri mencari Pak Satpam, tapi tidak ada. Aku pun terpaksa menunggu sampai salah satu pemilik sepeda motor itu datang untuk mengambilnya.

Lima menit, sepuluh menit aku menunggu, bukannya si empunya sepeda motor yang datang tapi seseorang yang dengannya aku mencuri-curi pandang beberapa hari belakangan ini. Dan benar saja, salah satu dari sepeda motor yang mengapit sepeda motorku adalah kepunyaannya. Ketika dia mulai memindahkan sepeda motornya, aku menghampirinya.

Seperti biasa, kami bertukar senyum. Aku tersenyum lebar seakan mengindikasikan sesuatu yang lain. Kemudian dia menyadari bahwa aku sedang menunggunya memindahkan sepeda motornya.

“Oh, ini motor kamu?” tanyanya setengah kaget.

“Iya,” kataku setengah tertawa.

“Ya ampun, sorry sorry, pasti lama nunggunya ya?”

“Lumayan,” jawabku.

Kemudian dia memindahkan sepeda motornya dan aku akhirnya bisa mengambil milikku.

“Sorry banget ya,” katanya lagi tampak merasa bersalah.

“Hahaha, iya, gapapa kok,” jawabku. “Oh iya, Gita,” kataku sambil mengulurkan tangan.

“Raka,” jawabnya menyambut tanganku sambil tersenyum.

“Oke, sampai ketemu besok, ya,” kataku berpamitan. “Makasih udah mindahin motornya.”

“Sama-sama, maaf ya udah bikin nunggu.”

Kami saling tersenyum dan aku segera memacu motorku meninggalkan tempat parkir. Besok kami akan bertemu lagi, dengan sudah mengenal nama satu sama lain tentu saja.

Lalu? Kalau sudah berkenalan lalu apa? Jadi selanjutnya bagaimana? Mana aku tahu. Memangnya salah kalau kami berteman? Aku tersenyum lebar, mengejar matahari yang telah mendahuluiku pergi ka barat.

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Cinta, Suka Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s